Thursday, February 2, 2012

Afrika Ingin Kehadiran Internet

BERITA ANAK MEDAN - Siap-siap kecewa jika berada di beberapa bagian Afrika, karena minimnya koneksi. Namun, warga Benua Hitam masih terus berharap.
Sekelompok masyarakat berkumpul di pantai berpasir putih, dekat Monrovia, Liberia. Mereka menyaksikan penyelam-penyelam yang muncul dari dalam air yang membawa seutas tambang. Di darat, sebuah tim meraih tambang itu dan menariknya bersama-sama.
Tak lama, di ujung tambang, ada kabel hitam yang muncul dan akhirnya rakyat bersorak. Jauh di lepas pantai, tampak kapal Prancis berlabuh di jangkarnya. Kapal ini mengangkut kabel sepanjang 17 ribu km dari Prancis ke Cape Town, Afrika Selatan, via pesisir Barat.
Kabel itu tebalnya sekitar lima centimeter, namun dipenuhi serat optik yang dikenal sebagai sistem Africa Coast to Europe (ACE). Operatornya, sebuah konsorsium yang dipimpin French Telecom. Mereka akan menyediakan jaringan koneksi broadband ke lebih dari 20 negara.
Kabar itu disambut baik oleh sekelompok pria di sebuah warnet di Monrovia. Untuk online, mereka harus merogoh kocek US$2 per jam atau sekitar Rp16 ribu. Tarif itu lebih banyak dari pendapatan rata-rata warga Liberia per harinya.
“Internet di sini amat lambat. Kadang anda membayar sejam, tapi menggunakannya hanya 20 menit. Loading dan loading saja, membuat frustasi,” ujar Emmanuel Dolo, pengguna warnet yang datang karena hendak mendaftar beasiswa online.
Biaya tinggi dan koneksi luar biasa lambat, kata Calestous Juma, Profesor Practice of International Development di Harvard sekaligus pakar telekomunikasi Afrika, di antaranya disebabkan satu-satunya jaringan mengalami overload.
“Kabel serta optik kelebihan kapasitas dalam menyediakan aliran data yang lebih konsisten ketimbang koneksi satelit. Komunikasi satelit melibatkan pengiriman sinyal ke orbit dan kembali. Delay-nya bisa dalam hitungan detik,” ujarnya.
Bagi Liberia, seperti Gambia, Sierra Leone dan Guinea, kabel ACE merupakan koneksi pertama mereka ke sistem serat optik. Ini merupakan bagian dari pola pembangunan di Afrika yang pengguna internetnya hanya 9,6% ini.
Menurut Blidi Elliott yang mengerjakan proyek Bank Dunia untuk menaikkan jangkauan geografis broadband di Liberia, penetrasi di Afrika memang rendah. Sama sekali tak ada kekuatan yang bisa membawa broadband ke negara itu.
“Namun saya yakin, pengguna internet di Liberia bisa naik ke75% dalam empat tahun mendatang. Meskipun masih banyak yang belum pernah menyentuh komputer,” ujarnya. Sistem ACE sebagai langkah awal sudah berjalan dengan amat baik.
Nantinya, ACE akan menghubungkan 23 negara di Afrika termasuk Mauritania, Gabon dan Republik Kongo. Juga Mali dan Niger yang tak memiliki batasan laut, akan dihubungkan dengan kabel ACE melalui jalur darat.
Pemimpin proyek menyatakan, sistem kabel di Liberia akan diaktifkan mulai pertengahan tahun depan. Meski tugas berat berikutnya seperti menanam kabel terestrial untuk jaringan nasional dan lokal serta membangun menara-menara seluler, masih harus dilakukan.

Baca Berita Lainnya :

0 komentar:

Post a Comment

Lowongan kerja Medan 2012 :

 
Design by blogger Themes | Bloggerized by agroy - Berita anak medan | Best By blogger